Sebagian ulama berkata:
Nasihat tidak akan memberi manfaat kecuali jika keluar dari hati, karena ia akan sampai ke hati. Adapun jika hanya keluar dari lisan, maka ia masuk dari satu telinga lalu keluar dari telinga yang lain.
Ungkapan ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Ia menjelaskan bahwa kekuatan sebuah nasihat bukan semata-mata terletak pada keindahan kata-kata, tetapi pada keikhlasan hati orang yang menyampaikannya.
Di zaman sekarang, manusia sangat mudah mendapatkan nasihat. Ceramah tersebar di berbagai platform, potongan dakwah memenuhi media sosial, dan kajian dapat diakses kapan saja. Hampir setiap hari telinga kita mendengar nasihat tentang iman, akhlak, dan akhirat.
Namun, muncul sebuah pertanyaan: mengapa hati banyak orang tetap sulit berubah?
Bukan karena ilmu yang disampaikan tidak baik, melainkan karena hati belum benar-benar siap menerimanya. Bahkan, tidak sedikit hati yang telah mengeras akibat dosa, kelalaian, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Hati seperti ini tidak mudah ditembus; ia membutuhkan waktu, mujahadah, dan nasihat yang lahir dari hati yang ikhlas agar mampu menembus hati yang mendengarnya.
Di sisi lain, tidak semua nasihat disampaikan dengan tujuan mencari ridha Allah. Ada yang lebih mengejar pujian, popularitas, atau tepuk tangan manusia. Kata-katanya indah, suaranya lantang, dan susunan kalimatnya memukau. Namun, ketika keikhlasan tidak menjadi ruhnya, nasihat itu hanya singgah di telinga tanpa meninggalkan bekas di dalam hati.
Sebaliknya, ada nasihat yang disampaikan dengan penuh keikhlasan, rasa takut kepada Allah, dan harapan agar saudaranya memperoleh hidayah. Kalimatnya mungkin sederhana, tetapi mampu menggugah hati, menghidupkan jiwa, dan menggerakkan seseorang untuk bertaubat.
Demikianlah keadaan para ulama salaf. Mereka bukan hanya menyampaikan ilmu dengan lisan, tetapi juga dengan keteladanan hidup. Orang-orang yang mendengar mereka tidak hanya menyimak kata-katanya, melainkan juga menyaksikan kejujuran, ketakwaan, dan bekas ibadah pada diri pemberi nasihat. Karena itulah, terkadang satu kalimat saja mampu membuat seseorang menangis, bertaubat, bahkan mengubah jalan hidupnya.
Maka, sebelum bertanya mengapa nasihat tidak lagi menyentuh hati, hendaknya setiap pemberi nasihat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah nasihat ini benar-benar keluar dari hati yang ikhlas karena Allah, atau hanya keluar dari lisan yang menginginkan penilaian manusia?
Sebab, nasihat yang keluar dari hati akan lebih mudah sampai ke hati. Adapun nasihat yang hanya keluar dari lisan sering kali hanya singgah di telinga, lalu berlalu tanpa meninggalkan bekas.
Nasihat di zaman sekarang sering kali bagaikan tetesan air yang menggelincir di atas batu yang licin; tidak meresap dan tidak meninggalkan bekas. Padahal, jika hati dipenuhi keikhlasan dan dipersiapkan untuk menerima kebenaran, setetes nasihat saja dapat menghidupkan hati yang telah lama lalai.

