Hukum Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung: Bolehkah?

Sholat tahiyyatul masjid



Shalat Jumat merupakan ibadah wajib bagi setiap pria muslim yang telah memenuhi syarat syariat (mukallaf). Dalam rangkaiannya, ibadah ini tidak hanya terdiri dari shalat dua rakaat, melainkan juga mencakup dua khutbah. Keberadaan khutbah tersebut bukan sekadar formalitas atau pengantar, melainkan bagian dari syarat sah pelaksanaan shalat Jumat itu sendiri.

Oleh karena itu, jamaah diperintahkan untuk menyimak materi khutbah dengan saksama. Namun, dalam realitas sehari-hari, sering muncul pertanyaan: 

Bagaimana hukumnya jika seseorang menunaikan shalat sunnah ketika khatib sedang berkhutbah di atas mimbar?

Mari kita bedah hukumnya berdasarkan penjelasan dalam literatur fikih mazhab Syafi'i.

Larangan Shalat bagi Jamaah yang Sudah Hadir Lebih Awal

Bagi jamaah yang sudah berada di dalam masjid sejak awal, mereka dilarang keras untuk memulai shalat baru baik shalat fardhu maupun sunnahsetelah khatib naik dan duduk di atas mimbar. Bahkan, larangan ini juga mencakup ibadah lain seperti sujud tilawah dan sujud syukur.

Syekh Ahmad bin Salamah al-Qalyubi  menegaskan di dalam kitab ;

حاشية القليوبي وعميرة

(فَرْعٌ): تَحْرُمُ الصَّلَاةُ إجْمَاعًا فَرْضًا وَنَفْلًا، وَكَذَا سَجْدَةُ التِّلَاوَةِ وَالشُّكْرِ بَعْدَ جُلُوسِ الْخَطِيبِ. وَلَا تَنْعَقِدُ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعْ الْخُطْبَةَ مَا دَامَ يَخْطُبُ وَلَوْ حَالَ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ. نَعَمْ تَصِحُّ التَّحِيَّةُ لِلدَّاخِلِ قَبْلَ جُلُوسِهِ وَلَوْ فِي ضِمْنِ غَيْرِهَا كَسُنَّةِ الْجُمُعَةِ، وَيَجِبُ تَخْفِيفُهَا كَصَلَاةِ الْخَطِيبِ فِي أَثْنَائِهَا بِأَنْ لَا يَسْتَوْفِيَ الْأَكْمَلَ وَلَا يَزِيدَ عَلَى رَكْعَتَيْنِ فِيهَا ابْتِدَاءً


Artinya:Cabang masalah: Berdasarkan kesepakatan ulama (ijmak), haram hukumnya mendirikan shalat fardhu maupun sunnah, begitu pula sujud tilawah dan sujud syukur, setelah khatib duduk di mimbar. Shalat tersebut dinilai tidak sah selama khutbah masih berlangsung, meskipun orang tersebut tidak mendengar khutbah, bahkan saat khatib sedang mendoakan penguasa. Namun, shalat tahiyyatul masjid bagi orang yang baru masuk tetap sah dilakukan sebelum ia duduk, meskipun diintegrasikan dengan shalat lain seperti sunnah Jumat. Ia wajib mempercepat shalatnya dengan tidak menyempurnakan rukun-rukun sunnah secara panjang lebar, serta tidak boleh lebih dari dua rakaat.


Ketentuan ini menekankan bahwa fokus utama jamaah yang sudah hadir adalah menjaga kekhusyukan dan mendengarkan nasihat agama yang disampaikan oleh khatib.

Pengecualian bagi Jamaah yang Baru Datang

Aturan berbeda berlaku bagi jamaah yang baru tiba di masjid ketika prosesi khutbah sudah berjalan. Syariat memberikan dispensasi kepada mereka untuk tetap menunaikan shalat Tahiyyatul Masjid sebanyak dua rakaat, dengan catatan harus dikerjakan secara ringkas dan cepat (khafifataini).

Syekh Nawawi al-Bantani memberikan penjelasan yang sangat mendetail mengenai batasan hal ini di dalam kitab;

 نهاية الزين في إرشاد المبتدئين

وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَاضِرِينَ بِالْجَامِعِ إِنْشَاءُ صَلَاةٍ سَوَاءٌ كَانَتْ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا، وَلَوْ كَانَ قَضَاؤُهَا فَوْرِيًّا مِنْ وَقْتِ صُعُودِ الْخَطِيبِ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَلَوْ قَبْلَ الشُّرُوعِ فِي الْخُطْبَةِ إِلَى فَرَاغِهَا، فَلَوْ فَعَلَهَا لَمْ تَنْعَقِدْ وَلَوْ فِي حَالِ الدُّعَاءِ لِلسُّلْطَانِ أَوِ التَّرَضِّي عَنِ الصَّحَابَةِ. وَلَوْ كَانَ أَتَى بِجَمِيعِ الْأَرْكَانِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ


Artinya:Haram bagi mereka yang telah hadir di masjid jami' untuk memulai shalat baru, baik fardhu maupun sunnah, terhitung sejak khatib naik ke atas mimbar sampai khutbah selesai, meskipun khutbah belum dimulai. Larangan ini tetap berlaku walau shalat tersebut merupakan qadha yang mendesak. Jika tetap dilakukan, menurut pendapat yang kuat (mu'tamad), shalatnya tidak sah meskipun seluruh rukunnya telah dipenuhi dan dilakukan saat khatib membaca doa untuk penguasa atau para sahabat.


Selanjutnya, beliau menambahkan dispensasi bagi orang yang baru masuk masjid:

وَأَمَّا مَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي هَذَا الْوَقْتِ، فَيَجُوزُ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ ثُمَّ يَجْلِسَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ صَلَّى سُنَّةَ الْجُمُعَةِ نَوَاهَا رَكْعَتَيْنِ وَحَصَلَ بِهِمَا تَحِيَّةُ الْمَسْجِدِ، وَلَا تَجُوزُ الزِّيَادَةُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَلَا يَجُوزُ لَهُ غَيْرُ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ وَسُنَّةِ الْجُمُعَةِ مِنْ فَرْضٍ وَنَفْلٍ. وَلَوْ جَلَسَ قَبْلَ التَّحِيَّةِ عَمْدًا أَوْ طَالَ الْفَصْلُ فَاتَتْ فَلَا تَصِحُّ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ


Artinya: Adapun bagi orang yang baru masuk masjid pada waktu tersebut, ia diperbolehkan shalat dua rakaat yang ringan (cepat) untuk Tahiyyatul Masjid lalu segera duduk. Jika ia belum sempat shalat sunnah Qabliyah Jumat, ia boleh berniat shalat sunnah Jumat dua rakaat, dan pahala Tahiyyatul Masjid sudah otomatis tercapai di dalamnya. Ia tidak boleh menambah lebih dari dua rakaat, dan tidak boleh melakukan shalat lain. Jika ia sengaja langsung duduk sebelum shalat atau jeda setelah masuk terlalu lama, maka kesempatan Tahiyyatul Masjid dianggap gugur dan tidak sah lagi dilakukan setelahnya.


Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, kita dapat merangkum dua poin hukum penting:

 1. Jamaah yang sudah duduk di dalam masjid:  Tidak diperbolehkan mendirikan shalat apa pun sejak khatib naik mimbar. Kewajiban mereka adalah diam dan menyimak khutbah.

 2. Jamaah yang baru datang saat khutbah berlangsung: Dianjurkan shalat Tahiyyatul Masjid (atau diniatkan sekaligus sunnah Qabliyah Jumat) sebanyak dua rakaat secara cepat tanpa memperpanjang bacaan, kemudian segera duduk mendengarkan khatib.

(Wallāhu a‘lam bis ṣhawāb.)