Diriwayatkan dari كنانة بن جبلة bahwa Yazid ar-Raqasyi رحمه الله berkata:
خُذُوا الْكَلِمَةَ الطَّيِّبَةَ مِمَّنْ قَالَهَا وَإِنْ لَمْ يَعْمَلْ بِهَا، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Ambillah perkataan yang baik dari siapa pun yang mengucapkannya, meskipun ia sendiri belum mengamalkannya.
Sebab Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.' (QS. Az-Zumar: 18)
Nasihat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur dari siapa yang menyampaikannya, tetapi dari kesesuaiannya dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Seseorang yang masih memiliki kekurangan tetap bisa mengucapkan sesuatu yang benar. Karena itu, seorang mukmin hendaknya bersikap adil: menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang belum sempurna dalam mengamalkannya.
Kemudian Yazid ar-Raqasyi mengingatkan manusia agar merenungkan nikmat-nikmat Allah yang sering terlupakan. Beliau berkata:
أَمَا اللَّهُ مُكَافِئَةُ مُطْعِمِكَ وَمُسْقِيكَ وَكَافِيكَ، حَفِظَكَ فِي لَيْلِكَ وَنَهَارِكَ، وَأَجَابَكَ فِي ضَرَّائِكَ
Bukankah Allah yang memberi makanmu, memberi minummu, mencukupimu, menjaga dirimu siang dan malam, serta mengabulkan doamu ketika engkau berada dalam kesulitan?
Beliau melanjutkan:
كَأَنَّكَ نَسِيتَ لَيْلَةَ وَجَعِ الْأُذُنِ، وَلَيْلَةَ وَجَعِ الْعَيْنِ، أَوْ خَوْفًا فِي بَرٍّ، أَوْ خَوْفًا فِي بَحْرٍ، دَعَوْتَهُ فَاسْتَجَابَ لَكَ
Seakan-akan engkau telah melupakan malam ketika telingamu sakit, malam ketika matamu terasa nyeri, atau saat engkau diliputi ketakutan di daratan maupun di lautan. Engkau berdoa kepada-Nya, lalu Dia mengabulkan doamu.
Namun setelah semua nikmat itu, mengapa setiap kali dosa datang menghampiri, kita justru begitu mudah memeluknya?
إِنَّمَا أَنْتَ لِصٌّ مِنْ لُصُوصِ الذُّنُوبِ، كُلَّمَا عَرَضَ لَكَ عَارِضٌ عَانَقْتَهُ
Engkau hanyalah seperti pencuri yang gemar mencuri dosa; setiap kali dosa datang menghampirimu, engkau justru memeluknya.
Di akhir nasihatnya, Yazid ar-Raqasyi mengajarkan cara melihat hakikat dunia.
إِنْ سَرَّكَ أَنْ تَنْظُرَ إِلَى الدُّنْيَا بِمَا فِيهَا مِنْ ذَهَبِهَا وَفِضَّتِهَا وَزَخَارِفِهَا، فَشَيِّعْ جَنَازَةً، فَهِيَ الدُّنْيَا بِمَا فِيهَا مِنْ ذَهَبِهَا وَفِضَّتِهَا وَزَخَارِفِهَا، ثُمَّ احْتَمَلَ الْقَبْرُ مَا فِيهَا
Jika engkau ingin melihat hakikat dunia beserta seluruh emas, perak, dan gemerlap perhiasannya, maka iringilah sebuah jenazah. Di situlah dunia dengan seluruh kemewahannya berakhir, lalu kubur membawanya.
Kemudian beliau menutup dengan kalimat yang sangat menyentuh:
أَمَا إِنِّي لَسْتُ آمُرُكَ أَنْ تَحْتَمِلَ تُرْبَتَهُ، وَلَكِنْ آمُرُكَ أَنْ تَحْتَمِلَ فِكْرَتَهُ
Aku tidak memerintahkanmu membawa tanah kuburnya, tetapi aku memerintahkanmu membawa pulang pelajaran yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, sebelum tiba saat orang lain mengiringi jenazah kita, perbaikilah hubungan dengan Allah. Syukurilah nikmat-nikmat-Nya, tinggalkan dosa-dosa yang selama ini kita peluk, dan sibukkan diri dengan amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan nasihat, lalu mengikuti yang terbaik darinya.

