Para ulama sepakat bahwa kulit bangkai selain anjing dan babi dapat menjadi suci setelah melalui proses penyamakan (الدباغ)، berdasarkan hadis Nabi ﷺ:
إذ دبغ الإهاب فقد طهر
Apabila kulit telah disamak maka sungguh ia telah menjadi suci." (HR. Muslim)
Dalam mazhab Syafi'i, kulit bangkai yang telah disamak menjadi suci sehingga boleh dimanfaatkan, dijual, dihibahkan, dan digunakan untuk berbagai keperluan.
Imam Taqiyuddin Abu Bakar al-Hishni berkata:
كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار ص ١٨
إِذا دبغ الإيهاب فقد طهر) ثمَّ إِذا دبغ الْجلد طهر ظَاهره قطعا وَكَذَا بَاطِنه على الْمَشْهُور الْجَدِيد فَيصَلي عَلَيْهِ وَفِيه وَيسْتَعْمل فِي الْأَشْيَاء الْيَابِسَة والرطبة وَيجوز بَيْعه وهبته وَالْوَصِيَّة بِهِ وَهل يجوز أكله من مَأْكُول اللَّحْم رجح الرَّافِعِيّ بِالْجَوَازِ وَرجح النَّوَوِيّ التَّحْرِيم
Artinya:
"Apabila kulit telah disamak maka ia menjadi suci. Setelah kulit disamak, bagian luarnya suci secara pasti, demikian pula bagian dalamnya menurut pendapat masyhur yang baru (qaul jadid). Maka boleh shalat di atasnya dan dengannya, serta boleh digunakan pada benda-benda kering maupun basah. Boleh pula dijual, dihibahkan, dan diwasiatkan. Adapun apakah boleh dimakan jika berasal dari hewan yang halal dimakan dagingnya, maka Imam ar-Rafi'i menguatkan pendapat bolehnya, sedangkan Imam an-Nawawi menguatkan pendapat haramnya."
(Kifayatul Akhyar, hlm. 18)
Dari keterangan ini diketahui bahwa terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi'iyyah mengenai hukum memakan kulit yang telah disamak:
Pendapat Pertama: Boleh Dimakan
Pendapat ini dipilih oleh Imam ar-Rafi'i. Menurut beliau, apabila kulit hewan yang asalnya halal dimakan telah menjadi suci dengan penyamakan, maka tidak ada penghalang untuk memakannya.
Pendapat Kedua: Haram Dimakan
Pendapat ini dipilih oleh Imam an-Nawawi dan menjadi pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Syafi'i.
Dalam kitab Al-Iqna' disebutkan:
كتاب الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ج ١ ص ٢٩
القَوْل فِي حكم الْجلد بعد الدبغ) وَيصير المدبوغ كَثوب مُتَنَجّس لملاقاته للأدوية النَّجِسَة أَو الَّتِي تنجست بِهِ قبل طهر عينه فَيجب غسله لذَلِك فَلَا يصلى فِيهِ وَلَا عَلَيْهِ قبل غسله وَيجوز بَيْعه قبله مَا لم يمْنَع من ذَلِك مَانع( وَلَا يحل أكله سَوَاء كَانَ من مَأْكُول اللَّحْم أم من غَيره) لخَبر الصَّحِيحَيْنِ إِنَّمَا حرم من الْميتَة أكلهَا وَخرج بِالْجلدِ الشّعْر لعدم تأثره بالدبغ.
Artinya:
"Dan tidak halal memakannya, baik kulit tersebut berasal dari hewan yang dagingnya halal dimakan maupun selainnya."
(Al-Iqna' fi Halli Alfaz Abi Syuja', Juz 1, hlm. 29)
Dengan demikian, ulama Syafi'iyyah berbeda pendapat tentang memakan kulit yang telah disamak. Imam ar-Rafi'i membolehkan, sedangkan Imam an-Nawawi dan banyak ulama setelahnya mengharamkan. Adapun kesucian kulit setelah disamak untuk dimanfaatkan, digunakan, dan diperjualbelikan merupakan perkara yang disepakati dalam mazhab.
