Qolamulilm_ Dalam praktik ibadah sehari-hari, tidak jarang kita menjumpai perbedaan dalam pelaksanaan amalan, termasuk ketika seseorang masuk masjid pada hari Jumat saat azan kedua sedang dikumandangkan.



Sebagian orang—bahkan yang dikenal sebagai ustadz—langsung melaksanakan salat sunnah tahiyyatul masjid atau qobliyah Jumat, meskipun azan masih berlangsung.

Sementara itu, sebagian jamaah lainnya memilih untuk menunggu hingga azan selesai, baru kemudian melaksanakan salat sunnah tersebut.

Perbedaan ini tentu menimbulkan pertanyaan: manakah yang lebih utama dilakukan?

Rumusan Masalah

📘 PERTANYAAN

Manakah yang lebih baik dilakukan: langsung melaksanakan salat sunnah meskipun azan kedua sedang berkumandang, atau menunggu azan selesai terlebih dahulu?

Jawaban dan Penjelasan Ulama

📗 JAWABAN

Permasalahan ini termasuk dalam ranah khilaf (perbedaan pendapat ulama). Para ulama memberikan dua pandangan utama:

1. Pendapat yang Mengutamakan Menunggu Azan Selesai

Menurut Imām Ibnu Qāsim Al-Ubbādi, yang lebih utama adalah:

  • Menunggu hingga azan selesai
  • Kemudian melaksanakan salat tahiyyatul masjid dengan rakaat yang ringan

Tujuannya agar tetap bisa menjawab azan dengan sempurna, serta tidak tertinggal awal khutbah.

2. Pendapat yang Mengutamakan Langsung Salat

Sebagian ulama lain berpendapat:

  • Lebih utama langsung melaksanakan salat tahiyyatul masjid
  • Setelah itu, baru menjawab azan (dengan cara diqadha)

Alasannya, karena:

  • Salat bisa terluput jika ditunda terlalu lama
  • Sedangkan menjawab azan masih bisa dilakukan setelahnya selama tidak terlalu lama

Dalil dan Referensi Kitab

Berikut adalah rujukan dari kitab-kitab para ulama:

📚 حاشية علي الشبراملسي على نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج، ج ١ ص ٤٢٠-٤٢١

[فَرْعٌ] لَوْ دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي أَثْنَاءِ الْأَذَانِ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ، فَفِي الْعُبَابِ تَبَعًا لِمَا اخْتَارَهُ أَبُو شُكَيْلٍ أَنَّهُ يُجِيبُ قَائِمًا ثُمَّ يُصَلِّي التَّحِيَّةَ بِخِفَّةٍ لِيَسْمَعَ أَوَّلَ الْخُطْبَةِ سم عَلَى حَجّ. وَلَوْ قِيلَ بِأَنَّهُ يُصَلِّي ثُمَّ يُجِيبُ لَمْ يَكُنْ بَعِيدًا لِأَنَّ الْإِجَابَةَ لَا تَفُوتُ بِطُولِ الْفَصْلِ مَا لَمْ يَفْحُش الطُّولُ، عَلَى أَنَّهُ يُمْكِنُهُ الْإِتْيَانُ بِالْإِجَابَةِ وَالْخَطِيبُ يَخْطُبُ، بِخِلَافِ الصَّلَاةِ فَإِنَّهَا تَمْتَنِعُ عَلَيْهِ إذَا طَالَ الْفَصْلُ

Penjelasan singkat:

Teks ini menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan: menjawab azan terlebih dahulu lalu salat, atau sebaliknya. Namun, menjawab azan masih bisa dilakukan meskipun ada jeda, sedangkan salat bisa terluput jika terlalu lama ditunda.

📚 حاشية ابن قاسم العبادي على تحفة المحتاج، ١/‏٤٧٩

(فَرْعٌ) لَوْ دَخَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي أَثْنَاءِ الْأَذَانِ بَيْنَ يَدَيْ الْخَطِيبِ فَفِي الْعُبَابِ تَبَعًا لِمَا اخْتَارَهُ أَبُو شُكَيْلٍ أَنَّهُ يُجِيبُ قَائِمًا، ثُمَّ يُصَلِّي التَّحِيَّةَ بِخِفَّةٍ لِيَسْمَعَ أَوَّلَ الْخُطْبَةِ.


Penjelasan singkat:

Pendapat Abu Syukail yang diikuti di sini menyatakan bahwa yang lebih utama adalah menjawab azan terlebih dahulu, kemudian melaksanakan salat dengan ringan agar tidak tertinggal khutbah.


📚 بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة المتأخرين، ص ١٧٠

(فائدة) : أفتي أحمد الذهبي البصال بأن من دخل حالة أذان الخطبة أن الأولى له أن يصلي التحية، وقال أبو شكيل: لعل الأولى الوقوف وإجابة المؤذن ثم يصلي التحية ويتجوز ليحصل الجمع بين المقصودين، ورجحه أبو مخرمة قال: ولا يصح القول بكراهة الإجابة حينئذ


Penjelasan singkat:

Dalam teks ini disebutkan adanya dua pandangan:

Ada yang memfatwakan langsung salat

Ada yang mengutamakan menjawab azan terlebih dahulu

Dan ditegaskan bahwa menjawab azan dalam kondisi tersebut tidak makruh.

Kesimpulan

Dari penjelasan para ulama, dapat disimpulkan:

Masalah ini adalah khilafiyyah (perbedaan pendapat yang dibenarkan)

Kedua amalan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam kitab para ulama

Ringkasnya:

  • ✔️ Menunggu azan selesai lalu salat → lebih hati-hati dan mengikuti sebagian ulama
  • ✔️ Langsung salat lalu menjawab azan → juga dibolehkan dan memiliki dasar kuat

Sikap terbaik:

Menghormati perbedaan dan memilih salah satu pendapat dengan tetap menjaga adab serta tidak menyalahkan yang lain.

Penutup

Perbedaan seperti ini menunjukkan keluasan fiqh Islam dan rahmat dalam syariat. Yang terpenting adalah tetap menjaga kekhusyukan, adab di masjid, serta semangat dalam menjalankan sunnah.