Dalam perkembangan dakwah dan kegiatan keislaman di era digital, penggunaan media visual seperti banner, pamflet, dan desain promosi menjadi hal yang umum. Namun, tidak jarang muncul pertanyaan terkait hukum syariat dalam penggunaan gambar, terutama jika melibatkan foto laki-laki dan perempuan dalam satu media.


Kasus ini terjadi pada sebuah kegiatan seminar online yang diselenggarakan oleh Bapak Edy selaku ketua pelaksana. Dalam rangka publikasi, tim desain membuat banner yang menampilkan foto para narasumber laki-laki dan perempuan yang disusun secara berjejer. Namun, salah satu narasumber merasa keberatan dan menganggap hal tersebut termasuk dalam kategori ikhtilat.
Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan fikih terkait hal ini?

Rumusan Pertanyaan

๐Ÿ“˜ PERTANYAAN :
  1. Apakah foto laki-laki dan perempuan dalam satu banner termasuk ikhtilat?
  2. Bagaimana hukum fikih terkait hal tersebut jika tujuannya untuk informasi kegiatan?

Jawaban Fikih

๐Ÿ“— JAWABAN :
1. Apakah termasuk ikhtilat?
Foto laki-laki dan perempuan yang digabung dalam satu banner tidak termasuk ikhtilat, karena yang dimaksud ikhtilat dalam syariat adalah bercampurnya laki-laki dan perempuan secara langsung (fisik), bukan dalam bentuk gambar atau visual.

2. Hukum menampilkan foto untuk tujuan informasi
  • Dalam perspektif fikih, memasang foto wanita dalam banner untuk tujuan informasi kegiatan diperbolehkan, dengan beberapa syarat:
  • Foto tersebut tidak menampakkan aurat
  • Tidak mengandung unsur yang mengundang syahwat
  • Tidak menimbulkan fitnah
  • Tidak menjadi sarana kemaksiatan

Selama syarat-syarat tersebut terpenuhi, maka penggunaannya untuk keperluan informasi, seperti seminar atau kajian, diperbolehkan.

Dalil dan Referensi Ulama
Berikut beberapa rujukan dari kitab-kitab ulama yang menjadi dasar penjelasan:
1. Tentang hukum fotografi
๐Ÿ“– Tafsir Ayatul Ahkam Lisy-Sayis, Juz 1 Hal 677:

ูˆู„ุนู„ูƒ ุชุฑูŠุฏ ุจุนุฏ ุฐู„ูƒ ุฃู† ุชุนุฑู ุญูƒู… ู…ุง ูŠุณู…ู‰ ุจุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุดู…ุณูŠ ุฃูˆ ุงู„ูุชูˆุบุฑุงููŠ ูู†ู‚ูˆู„: ูŠู…ูƒู†ูƒ ุฃู† ุชู‚ูˆู„: ุฅู†ّ ุญูƒู…ู‡ุง ุญูƒู… ุงู„ุฑู‚ู… ููŠ ุงู„ุซูˆุจ، ูˆู‚ุฏ ุนู„ู…ุช ุงุณุชุซู†ุงุกู‡ ู†ุตุง. ูˆู„ูƒ ุฃู† ุชู‚ูˆู„: ุฅู† ู‡ุฐุง ู„ูŠุณ ุชุตูˆูŠุฑุง، ุจู„ ุญุจุณ ู„ู„ุตูˆุฑุฉ، ูˆู…ุง ู…ุซู„ู‡ ุฅู„ุง ูƒู…ุซู„ ุงู„ุตูˆุฑุฉ ููŠ ุงู„ู…ุฑุขุฉ

Penjelasan ini menunjukkan bahwa fotografi dapat dianalogikan seperti bayangan di cermin, bukan penciptaan gambar secara hakiki.

2. Tentang melihat lawan jenis melalui perantara
๐Ÿ“– Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz 3 Hal 301:

ู…ู‡ู…ุฉ [ููŠ ุจูŠุงู† ุงู„ู†ุธุฑ ุงู„ู…ุญุฑู… ูˆุงู„ุฌุงุฆุฒ ูˆุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ] ูŠุญุฑู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุฌู„ ูˆู„ูˆ ุดูŠุฎุง ู‡ู…ุง ุชุนู…ุฏ ู†ุธุฑ ุดูŠุก ู…ู† ุจุฏู† ุฃุฌู†ุจูŠุฉ ุญุฑุฉ ุฃูˆ ุฃู…ุฉ ุจู„ุบุช ุญุฏุง ุชุดุชู‡ู‰ ููŠู‡ ูˆู„ูˆ ุดูˆู‡ุงุก ุฃูˆ ุนุฌูˆุฒุง ูˆุนูƒุณู‡ ุฎู„ุงูุง ู„ู„ุญุงูˆูŠ ูƒุงู„ุฑุงูุนูŠ ูˆุฅู† ู†ุธุฑ ุจุบูŠุฑ ุดู‡ูˆุฉ ุฃูˆ ู…ุน ุฃู…ู† ุงู„ูุชู†ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุชู…ุฏ ู„ุง ููŠ ู†ุญูˆ ู…ุฑุขุฉ
ู‚ูˆู„ู‡: ู„ุง ููŠ ู†ุญูˆ ู…ุฑุขุฉ) ุฃูŠ ู„ุง ูŠุญุฑู… ู†ุธุฑู‡ ู„ู‡ุง ููŠ ู†ุญูˆ ู…ุฑุขุฉ ูƒู…ุงุก ูˆุฐู„ูƒ ู„ุงู†ู‡ ู„ู… ูŠุฑู‡ุง ููŠู‡ุง ูˆุฅู†ู…ุง ุฑุฃู‰ ู…ุซุงู„ู‡ุง. ูˆูŠุคูŠุฏู‡ ู‚ูˆู„ู‡ู… ู„ูˆ ุนู„ู‚ ุทู„ุงู‚ู‡ุง ุจุฑุคูŠุชู‡ุง ู„ู… ูŠุญู†ุซ ุจุฑุคูŠุฉ ุฎูŠุงู„ู‡ุง ูˆุงู„ู…ุฑุฃุฉ ู…ุซู„ู‡ ูู„ุง ูŠุญุฑู… ู†ุธุฑู‡ุง ู„ู‡ ููŠ ุฐู„ูƒ. ู‚ุงู„ ููŠ ุงู„ุชุญูุฉ: ูˆู…ุญู„ ุฐู„ูƒ، ูƒู…ุง ู‡ูˆ ุธุงู‡ุฑ، ุญูŠุต ู„ู… ูŠุฎุด ูุชู†ุฉ ูˆู„ุง ุดู‡ูˆุฉ

Penjelasan ini menunjukkan bahwa melihat melalui perantara seperti cermin tidak dihukumi sama dengan melihat langsung, selama aman dari fitnah dan syahwat.

3. Fatwa kontemporer tentang fotografi
๐Ÿ“– Fatawi Darul Ifta' al-Mishriyah, Juz 7 Hal 220:

ูˆุงู„ุฐู‰ ุชุฏู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู†ุจูˆูŠุฉ ุงู„ุดุฑูŠูุฉ ุงู„ุชู‰ ุฑูˆุงู‡ุง ุงู„ุจุฎุงุฑู‰ ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุฃุตุญุงุจ ุงู„ุณู†ู† ูˆุชุฑุฏุฏุช ูู‰ ูƒุชุจ ุงู„ูู‚ู‡، ุฃู† ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุถูˆุฆู‰ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ูˆุงู„ุญูŠูˆุงู† ุงู„ู…ุนุฑูˆู ุงู„ุขู† ูˆุงู„ุฑุณู… ูƒุฐู„ูƒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡، ุฅุฐุง ุฎู„ุช ุงู„ุตูˆุฑ ูˆุงู„ุฑุณูˆู… ู…ู† ู…ุธุงู‡ุฑ ุงู„ุชุนุธูŠู… ูˆู…ุธู†ุฉ ุงู„ุชูƒุฑูŠู… ูˆุงู„ุนุจุงุฏุฉ ูˆุฎู„ุช ูƒู„ุฐู„ูƒ ุนู† ุฏูˆุงูุน ุชุญุฑูŠูƒ ุบุฑูŠุฒุฉ ุงู„ุฌู†ุณ ูˆุฅุดุงุนุฉ ุงู„ูุญุดุงุก ูˆุงู„ุชุญุฑูŠุถ ุนู„ู‰ ุงุฑุชูƒุงุจ ุงู„ู…ุญุฑู…ุงุช

Fatwa ini menegaskan bahwa gambar atau foto diperbolehkan selama tidak mengandung unsur pengagungan, pornografi, atau dorongan kepada kemaksiatan.

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan:
  1. Menggabungkan foto laki-laki dan perempuan dalam satu banner bukan termasuk ikhtilat.
  2. Penggunaan foto wanita dalam media informasi diperbolehkan dalam fikih, dengan syarat tidak menimbulkan fitnah, tidak membuka aurat, dan tidak mengandung unsur maksiat.

Dengan demikian, desain banner kegiatan yang menampilkan narasumber laki-laki dan perempuan untuk tujuan informasi tetap berada dalam koridor yang dibolehkan oleh syariat, selama menjaga adab dan batasan yang telah ditetapkan.