Seorang ibu hamil dengan usia janin sekitar 7 minggu mengalami pendarahan hebat disertai sakit perut luar biasa, mirip dengan rasa sakit saat persalinan. Setelah tiga hari, ibu tersebut melakukan USG dan ditemukan bahwa janinnya kembar. Sayangnya, salah satu janin mengalami keguguran, sementara janin yang lain masih bertahan di dalam kandungan. Hingga saat ini, ibu tersebut masih mengalami pendarahan.



Pertanyaan

Dalam kondisi ini, darah yang keluar dari rahim ibu dihukumi sebagai darah apa? Apakah termasuk haid, nifas, atau darah rusak (istihadah)?

Jawaban

Dalam fiqh, hukum darah yang keluar pada kasus keguguran atau kelahiran kembar tergantung pada jarak waktu antara kelahiran kedua bayi dan apakah darah tersebut memenuhi syarat-syarat haid.

Tafsiran Fiqh

  1. Darah nifas

Jika jarak antara bayi pertama dan bayi kedua adalah 6 bulan atau lebih, darah yang keluar dihukumi sebagai nifas. Ini karena nifas dihitung dari persalinan yang pertama, dan darah tetap mengikuti aturan nifas sesuai hukum fiqih

     2. Darah haid

Jika darah memenuhi syarat-syarat haid (tidak kurang dari aqolul haid) dan kelahiran bayi kedua kurang dari 6 bulan, maka darah tersebut dihukumi sebagai haid. Hal ini berlaku karena secara fiqh, darah yang keluar di antara kelahiran kedua bayi masih bisa dikategorikan sebagai darah haid, terutama jika kondisi rahim memungkinkan terjadinya haid.

Referensi dari Kitab-Kitab Ulama

Qalyubi:

والنفاس لغة الولادة واصطلاحا الدم الخارج عقب فراغ الرحم من الحمل، وقبل مضي خمسة عشر يوما فما بين التوأمين حيض في وقته ، ودم فساد في غيره

(Qalyubi 1/112)

Penjelasan: Menurut Qalyubi, nifas adalah darah yang keluar setelah persalinan. Jika jarak antara kelahiran kedua bayi kurang dari 6 bulan, darah tersebut dihukumi sebagai haid, dan jika tidak memenuhi syarat haid, maka dianggap darah rusak (istihadah).

Al-Ghurar al-Bahiyyah:

والخارج حين الولادة سواء مع الولد أو الطلق دم فساد وبين التوأمين حيض إن توفرت شروطه. اهـ.

(Al-Ghurar al-Bahiyyah 1/212)

Penjelasan: Darah yang keluar saat persalinan dianggap darah rusak, sedangkan darah yang keluar di antara kelahiran bayi kembar dapat dihukumi haid jika syaratnya terpenuhi.

Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab – Imam Nawawi:

وَلَدَتْ توأمين ____ إلى أن قال _____ وَحَكَى ابْنُ الْقَاصِّ فِي التَّلْخِيصِ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا حَكَاهَا أَقْوَالًا وَالْمَشْهُورُ أَنَّهَا أَوْجُهٌ أَصَحُّهَا عِنْدَ الشَّيْخِ أَبِي حَامِدٍ وَأَصْحَابِنَا الْعِرَاقِيِّينَ وَالْبَغَوِيِّ وَالرُّويَانِي وَصَاحِبِ الْعُدَّةِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الْخُرَاسَانِيِّينَ أَنَّ النِّفَاسَ مُعْتَبَرٌ مِنْ الْوَلَدِ الثَّانِي وَهُوَ مَذْهَبُ مُحَمَّدٍ وَزَفَرَ وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ وَدَاوُد وَصَحَّحَ ابْنُ الْقَاصِّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ كَوْنَهُ مِنْ الْأَوَّلِ وَهُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَبِي يُوسُفَ وَأَصْحُّ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْ أَحْمَدَ وَرِوَايَةٌ عَنْ دَاوُد وَتَوْجِيهُ الْجَمِيعِ مَذْكُورٌ فِي الْكِتَابِ

فَإِنْ قُلْنَا يُعْتَبَرُ مِنْ الثَّانِي فَفِي حُكْمِ الدَّمِ الَّذِي بَيْنَهُمَا ثَلَاثَةُ طُرُقٍ أَصَحُّهَا وَبِهِ قَطَعَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ فِيهِ الْقَوْلَانِ فِي دَمِ الْحَامِلِ أَصَحُّهُمَا أَنَّهُ حَيْضٌ وَالثَّانِي دَمُ فَسَادٍ وَالطَّرِيقُ الثَّانِي الْقَطْعُ بِأَنَّهُ دَمُ فَسَادٍ كَاَلَّذِي تَرَاهُ فِي مبادئ خروج الولد وبهذا قَطَعَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَالثَّالِثُ الْقَطْعُ بِأَنَّهُ حَيْضٌ لِأَنَّهُ بِخُرُوجِ الْأَوَّلِ انْفَتَحَ بَابُ الرَّحِمِ فَخَرَجَ الْحَيْضُ بِخِلَافِ مَا قَبْلَهُ فَإِنَّهُ مُنْسَدٌّ وَقَالَ الرَّافِعِيُّ قَالَ الْأَكْثَرُونَ إنْ قُلْنَا دَمُ الْحَامِلِ حَيْضٌ فَهَذَا أَوْلَى

Penjelasan: Imam Nawawi menjelaskan bahwa masa nifas bisa dihitung dari anak pertama atau anak kedua, dan darah yang keluar di antara keduanya memiliki tiga kemungkinan hukum:

  • Haid (lebih utama)
  • Darah rusak (istihadah)
  • Haid karena keluarnya anak pertama membuka pintu rahim, sehingga darah haid bisa keluar berbeda dari sebelumnya.

Kesimpulan

  • Darah yang keluar setelah keguguran salah satu janin kembar lebih utama dihukumi haid, jika jarak antara kelahiran kedua bayi kurang dari 6 bulan dan syarat haid terpenuhi.
  • Jika jarak antara bayi pertama dan kedua 6 bulan atau lebih, darah dihukumi nifas.
  • Pendapat lain menyebut darah tersebut sebagai darah rusak (istihadah), khususnya jika keluar di awal keguguran.