Qolamulilm – Dalam kehidupan modern, banyak pekerjaan yang menuntut seseorang untuk sering bepergian ke berbagai daerah dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan penting dalam kajian fiqih, khususnya terkait status safar (perjalanan) dan hukum puasa di bulan Ramadhan.



Tidak sedikit kaum muslimin yang mengalami situasi serupa, sehingga membutuhkan penjelasan yang jelas berdasarkan dalil dan pendapat para ulama agar tidak salah dalam beribadah.

Sebagai ilustrasi, kita ambil contoh berikut:

Sebut saja Pak Putra, seorang pegawai yang bekerja di sebuah instansi. Dalam pekerjaannya, ia sering melakukan perjalanan dinas ke berbagai kota secara terus-menerus. Rutenya meliputi Tegal, Pekalongan, Kendal, Semarang, hingga Magelang, lalu berputar ke Banyumas dan kembali ke Jakarta.

Perjalanan tersebut berlangsung sekitar dua minggu tanpa jeda menetap yang jelas di satu tempat.

📘 Pertanyaan

Apakah Pak Putra termasuk musafir?

Apakah Pak Putra boleh membatalkan puasanya?

📗 Jawaban

1. Status Pak Putra sebagai Musafir

Dalam madzhab Syafi’i, Pak Putra tetap dihukumi sebagai musafir, karena ia melakukan perjalanan jauh yang memenuhi syarat safar.

Namun, dalam madzhab Hanbali, terdapat perincian tambahan. Seseorang belum dianggap musafir secara sempurna jika tidak memiliki tujuan mukim (menetap) di tempat yang dituju. Karena perjalanan Pak Putra bersifat terus berpindah tanpa niat menetap, maka menurut sebagian pandangan Hanbali, status safarnya diperselisihkan.

2. Hukum Membatalkan Puasa bagi Pak Putra

Dalam fiqih, seorang musafir memang mendapatkan keringanan (rukhsah) untuk tidak berpuasa. Namun, terdapat beberapa syarat yang harus terpenuhi:

Jarak safar mencapai minimal 2 marhalah (± 83 km)

Perjalanan bukan untuk maksiat, melainkan perkara yang mubah

Status sebagai musafir sudah ada sebelum terbit fajar

Jika ketiga syarat ini terpenuhi, maka secara umum ia boleh berbuka.

⚠️ Catatan Penting: Musafir yang Terus-Menerus Safar

Para ulama memberikan perhatian khusus kepada orang yang safar secara terus-menerus seperti kasus Pak Putra. Dalam kondisi ini, hukum berbuka tidak selalu diperbolehkan secara mutlak.


Sebagaimana disebutkan dalam kitab:

📚 Referensi Klasik

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار ١/‏٢٠٦ — تقي الدين الحصني

وَأما الْمُسَافِر فَشرط الْإِبَاحَة لَهُ أَن يكون سَفَره طَويلا مُبَاحا فَلَا يترخص فِي الْقصير لعدم الْمُبِيح وَلَا فِي السّفر بالمعصية لِأَن الرُّخص لَا تناط بِالْمَعَاصِي فَلَو أصبح مُقيما ثمَّ سَافر فَلَا يفْطر لِأَنَّهَا عبَادَة اجْتمع فِيهَا السّفر والحضر فغلبنا الْحَضَر وَقَالَ الْمُزنِيّ يجوز لَهُ الْفطر قِيَاسا على من أصبح صَائِما فَمَرض نعم لَو أصبح الْمُسَافِر وَالْمَرِيض صَائِمين فَلَهُمَا الْفطر لِأَن السَّبَب المرخص مَوْجُود وَقيل لَا يجوز وَلَو أَقَامَ الْمُسَافِر أَو شفي الْمَرِيض حرم الْفطر على الصَّحِيح لزوَال سَبَب الاباحة ثمَّ إِن الْأَفْضَل فِي حق الْمُسَافِر ينظر إِن لم يتَضَرَّر فالصوم أفضل وَإِن تضرر فالفطر أفضل وَقَالَ فِي التَّتِمَّة وَلَو لم يتَضَرَّر فِي الْحَال لكنه يخَاف الضعْف لَو صَامَ وَكَانَ فِي سفر حج أَو غَزْو فالفطر أولى وَالله أعلم

إعانة الطالبين الجزء الثانى صحـ : 267 مكتبة دار الفكر

وَيسْتَثْنَى مِنْ جَوَازِ الْفِطْرِ بِالسَّفَرِ مُدِيْمُ السَّفَرِ فَلاَ يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ ِلأَنَّهُ يُؤَدِّيْ إِلَى إِسْقَاطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلَّيَّةِ إِلاَّ أَنْ يَقْصِدَ قَضَاءً فِيْ أَيَّامٍ أَخَرَ فِيْ سَفَرِهِ وَمِثْلُهُ مَنْ عَلِمَ مَوْتَهُ عَقِبَ الْعِيْدِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ إِنْ كَانَ قَادِرًا فَجَوَازُ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِنَّمَا هُوَ فِيْمَنْ يَرْجُوْ إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا وَهَذَا هُوَ مَا جَرَى عَلَيْهِ السُّبُكِيُّ وَاسْتَظْهَرَهُ فِي النِّهَايَةِ اهـ

Terjemahan:

Dalam kitab I’anatut Thalibin dijelaskan bahwa orang yang safarnya terus-menerus tidak diperbolehkan berbuka, karena dapat menyebabkan gugurnya kewajiban puasa secara keseluruhan, kecuali jika ia berniat mengqadha di waktu lain.

كاشفة السجا

وَالصَّوْمُ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ ِلأَنَّ فِيْهِ بَرَاءَة َلذِّمَّةِ فَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ بِأَنْ لَحِقَهُ مِنْهُ نَحْوُ أَلَمٍ يَشُقُّ احْتِمَالُهُ عَادَةً فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ أَمَّا إذَا خَشِيَ مِنْهُ تَلَفَ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ فَيَجِبُ الْفِطْرُ فَإِنْ صَامَ عَصَى وَأَجْزَأَهُ وَمَحَلُّ جَوَازِ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِذَا رَجَا إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا وَإِلاَّ بِأَنْ كَانَ مُدِيْمًا لَهُ وَلَمْ يُرْجَ ذَلِكَ فَلاَ يَجُوْزُ لَهُ الْفِطْرُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ِلأَدَائِهِ إِلَى إِسْقاَطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلِّيَّةِ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ بِالْجَوَازِ فَائِدَتُهُ فِيْمَا إِذَا أَفْطَرَ فِيْ أَيَّامِ الطَّوِيْلَةِ أَنْ يَّقْضِيَهُ فِيْ أَيَّامٍ أَقْصَرُ مِنْهَا اهـ

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 2 صحـ : 88

كَذَا قَالَهُ شَيْخُنَا وَنَقَلَ الْعَلاَمَةُ ابْنُ قَاسِمٍ عَنْ شَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ أَنَّهُ يَكْفِي تَمَكُّنُهُ فِي الْعَامِ اْلأَوَّلِ وَبِهَذَا عُلِمَ أَنَّهُ لاَ فِدْيَةَ عَلَى نَحْوِ الْهَرَمِ بِتَأْخِيرِ الْفِدْيَةِ لِعَدَمِ الْقَضَاءِ فِيهِ وَلاَ عَلَى مُدِيمِ السَّفَرِ لاِسْتِمْرَارِ عُذْرِهِ كَمَا مَرَّ اهـ

🧾 Kesimpulan

Dalam madzhab Syafi’i, Pak Putra tergolong musafir.

Secara umum, musafir boleh tidak berpuasa dengan syarat tertentu.

Namun, bagi orang yang terus-menerus safar, seperti Pak Putra:

Tidak dianjurkan bahkan bisa tidak diperbolehkan berbuka, jika hal itu menyebabkan ia tidak pernah mengganti puasanya.

Jika tidak mengalami kesulitan, maka berpuasa lebih utama.

Jika mengalami kesulitan berat atau membahayakan, maka berbuka menjadi lebih utama bahkan bisa wajib.